Senin, 16 November 2015

KISAH ASMA NADIA

KISAH ASMA NADIA

Asmarani Rosalba adalah nama asli Asma Nadia seorang sastrawati. Asma dilahirkan di Jakarta pada tanggal 26 Maret 1972. Ia adalah adik kandung Helvy Tiana Rosa, seorang penulis muda. Ia mulai berkecimpung di dunia tulis-menulis ketika mulai mencipta lagu di sekolah dasar.
Asma mempunyai dua orang anak, yaitu Salsabila dan Adam Putra. Ia aktif menulis cerpen, puisi, dan resensi di media sekolah. Setelah lulus dari SMA 1 Budi Utomo, Jakarta, Asma Nadia melanjutkan kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Namun, kuliah yang dijalaninya tidak tamat. Dia harus beristirahat karena penyakit yang dideritanya.
Asma mempunyai obsesi untuk terus menulis. Itulah sebabnya, ketika kesehatannya menurun, ia tetap bersemangat menulis. Di samping itu, dorongan dan semangat yang diberikan keluarga dan orang yang menyayanginya memotivasi Asma untuk terus menulis. Asma tetap aktif mengirimkan tulisannya ke majalah Islam. Sebuah cerpennya yang berjudul "Imut" dan "Koran Gondrong" pernah memenangi juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) tingkat nasional yang diadakan majalah Aninda (1994 dan 1995).
Di samping menulis cerita fiksi, Asma Nadia juga aktif menulis lirik lagu. Sebagian lirik lagunya terdapat di album "Bestari I"(1996), "Bestari II"(1997), dan "Bestari III"(2003). Snada The Prestation, Air Mata Bosnia, Cinta Ilahi, dan Kaca Diri.
Asma Nadia juga pernah mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei Darusalam, bengkel kerja kepenulisan novel yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Dari hasil kegiatan kepenulisan Mastera, Asma Nadia menghasilkan novel yang berjudul Derai Sunyi. Sebagai anggota ICMI, Asma Nadia juga pernah diundang untuk mengisi acara bengkel kerja kepenulisan yang diadakan ICMI, orsat Kairo. Kesibukan Asma Nadia sekarang selain sebagai penulis fiksi, ia memimpin Forum Lingkar Pena, sebuah forum kepenulisan bagi penulis muda yang anggotanya hampir ada di 25 provinsi di Indonesia. Asma juga sering menjadi pemandu acara pada acara yang bernuansa keislaman. Kini, Asma juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur Yayasan Prakasa Insan Mandiri (Prima). Ia juga sibuk mengadakan berbagai paket kegiatan anak melalui prime kids dan memberi kursus bahasa Inggris.
Buku-buku karya sastranya berupa cerpen, antara lain, Lentera (An-Najah, 1999), serial Aisyah Putri I sd 4 (Asy Syaamil), dua buku fabel Ola si Koala (Asy Syaamil), Titian Pelangi (Mizan), Hari-Hari Cinta Tiara (Mizan), Kepak Sayap Patah (FBA Press), Dialog Dua Layar (Mizan), Pelangi Menari (Asy Syaamil), Cinta Tak Pernah Menari (Gramedia Pustaka Utama). Buku novelnya, antara lain, Serenada Biru Dinda (Asy Syaamil), Pesantren Impian ( Asy Syaamil), Derai Sunyi (Mizan), dan Putri di Antara Peri Cantik (Lingkar Pena Publising), dll.
Ia pernah menjadi satu dari 35 penulis dari 31 negara yang diundang untuk menjadi penulis tamu dalam Iowa International Writing Program, di sana ia sempat berbagi tentang Indonesia dan proses kreatifnya dalam menulis dengan pelajar dan mahasiswa serta kaum tua di Amerika Serikat. Selain memenuhi undangan membaca cerpen yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, karyanya terpilih untuk ditampilkan dalam adaptasi ke pentas teater di Iowa, selain berkolaborasi dengan aktor tunarungu Amerika Serikat dalam pementasan di State Department, Washington D.C.
Ia menggemari seni fotografi, dan telah menjelajah 59 negara dan 270 kota di dunia. Melalui Yayasan Asma Nadia, ia merintis Rumah Baca Asma Nadia yang tersebar di seluruh Indonesia, rumah baca sederhana yang beberapa di antaranya memiliki sekolah dan kelas komputer serta tempat tinggal bagi anak yatim secara gratis untuk membaca dan beraktivitas bagi anak-anak dan remaja yang kurang mampu. Saat ini, ada 140 perpustakaan yang dikelola bersama relawan untuk kaum yang kurang beruntung dan tidak mampu.


sumber:  http://intan-cerpen.blogspot.co.id/2011/04/biografi-asma-nadia.html

REL KERETA TRANS SULAWESI TELAH DIPASANG

REL KERETA TRANS SULAWESI TELAH DIPASANG

Rel kereta api Trans Sulawesi di jalur rel kereta api Makassar-Barru telah dipasang hari Jumat (13/11) kemarin.
            Pemasangan rel kereta api Makassar-Barru pertama kali dilakukan di Desa Lalebata, Kecematan Tanterilau, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Acara ini disaksikan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bapak Hermanto Dwiatmoko, Gubernur Sulsel Bapak Syahrul Yasin Limpo, dan Plt. Bupati bapak A.Muh. Yamin.
            Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bapak Hermanto Dwiatmoko mengatakan sebanyak 5.600 batang rel baja yang dipesang , masing-masing panjangnya 25 meter yang didatangkan dari Jepang tiba di Pelabuhan Garongkong, Barru, 5 November 2015 kemarin.
Pemasangan rel kereta ini menandai dimulainya lagi perkeretaapian di Sulawesi setelah berpuluh-puluh tahun tidak mempunyai jaringan kereta. Rencananya, pada akhir Desember 2015 nanti akan dipasang rel sepanjang 16,1 km dari Barru ke Parepare. Total rel dari Makassar ke Parepare adalah 145,23 km.

Bapak Hermanto Dwiatmoko menyebutkn dalam proyek perintisan rel kereta Makassar-Parepare ini dirampung pada 2018 mendatang dengan menelan biaya sebesar Rp 10,8 Triliun yang bersumber dari APBN.


Sumber : www.detik.com

PENULIS NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN MERAMEKAN AUDITORIUM UNTAD

PENULIS NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN MERAMEKAN AUDITORIUM UNTAD

Sabtu (14/11), Asma Nadia penulis novel Surga Yang Tak Dirindukan hadir dalam Kuliah Umum Dan Bedah Buku Nasional yang diadakan di Auditorium UNTAD.
            Kuliah Umum dan Bedah Buku Nasional yang dilaksanakan Prodi Ilmu Komunkasi Universitas Tadulako berlangsung meriah. Kuliah Umum dan Bedah Buku Nasional yang diadakan di Auditorium Untad mendatangkan penulis novel terkenal yaitu Asma Nadia mengundang banyak antusiasme mahasiswa untuk dapat melihat secara langsung sosok penulis Surga Yang Tak Dirindukan.
            Kuliah Umum dan Bedah Buku Nasional tersebut dibuka oleh Dr. Muh. Khairil, S.Ag,M.Si selaku ketua prodi Ilmu Komunikasi. “Saya ucapkan selamat datang pada Mba Asma Nadia, saya sangat senang mba Asma bisa datang ke Bumi Tadulako ini. Saya juga begitu penasaran Benarkah Surga Tak Dirindukan?” kata beliau dalam sambutannya.
            Selain ketua prodi Ilmu Komunikasi, ada juga sambutan dari Dekan Fisip yang diwakili Bapak Dr. Sultan Zainuddin, M.Si selaku ketua jurusan Sosiologi. Selanjutnya sambutan Bapak Rektor yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Pengawasan Prof. Andi Lagaligo Amar. M.Sc yang menyampaikan permohonan maaf bapak rektor tidak dapat hadir karena beliau ada acara.

            Dalam acara ini Asma Nadia membuka sesi tanya jawab kepada mahasiswa yang ingin bertanya, entah tentang novel atau tentang bagaimana agar dapat menghasilkan sebuah karya tulis. Ditutup dengan penyerahan  hadiah kepada mahasiswa yang beruntung.